PENINGKATAN KEMAMPUAN BANTU DIRI PADA ANAK GANGGUAN PERKEMBANGAN INTELEKTUAL DI DESA KEDUNG PUTRI

Authors

  • Robik Anwar Dani Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
  • Marcella Mariska Aryono Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
  • Herdina Tyas Leylasari Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.9744/share.8.1.9-16

Keywords:

Kemampuan Bantu Diri, Gangguan Perkembangan Intelektual

Abstract

Keterampilan bina diri memanglah tampak sederhana, kegiatan yang biasa dilakukan ini ialah komponen dasar yang penting dan wajib dimiliki oleh tiap orang supaya mandiri. Tetapi, tidak tiap orang bisa terampil dalam melaksanakan kegiatan bina diri tersebut. Salah satunya ialah kanak-kanak yang hadapi intellectual developmental disorder. Pada anak dengan kendala pertumbuhan intelektual, keahlian bantu diri tidaklah perihal yang bisa dengan segera mereka kuasai. Pada anak dengan gangguan perkembangan intelektual yang sudah beranjak remaja kemampuan bantu diri menjadi hal yang sangat penting. Salah satu kemampuan bantu diri yang hendaknya harus segera dikuasai anak yang beranjak remaja adalah kemampuan dalam memakai BH. Hal itu dikarenakan pada usianya yang sudah beranjak remaja anak masih memerlukan bantuan untuk memakai BH. Padahal anak sudah mengalami pertumbuhan alat kelamin sekunder. Dengan demikian solusi yang ditawarkan untuk mitra adalah memberikan modifikasi perilaku teknik chaining untuk dapat meningkatkan kemampuan anak memakai BH serta memberikan psikoedukasi keluarga sehingga wawasan orang tua akan ‘keistimewaan’ anaknya meningkat serta pembuatan modul intervensi “Backward Chaining untuk Melatih Memakai BH Anak Gangguan Perkembangan Intelektual. Secara teknis kegiatan ABDIMAS ini akan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni: persiapan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Dengan terselenggarakannya kegiatan ABDIMAS ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan bantu diri anak dengan gangguan perkembangan intelektual sehingga tidak terlalu bergantung pada orang lain. Hasil pelaksanaan kegiatan ABDIMAS ini adalah meningkatnya kemampuan bantu diri anak KK dalam memakai BH secara mandiri.

References

American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (4th edition text revision). United States of America: America Psychiatric Publishing.

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of MentalnDisorders (5th edition). United States of America: America Psychiatric Publishing.

Asra, Y. K. (2013). Efektivitas Psikoedukasi pada Orang tua dalam Meningkatkan Pengetahuan Seksualitas Remaja Retardasi Mental Ringan. Jurnal Psikologi. Vol. 9, No. 1.

Cartwright, M. E. (2007). Psychoeducation among Caregivers of Children Receiving Mental Health Service. Disertation. Ohio: The Ohio state University.

Handayani, V. (2009). Melatih Keterampilan Berpakaian Anak Keterbelakangan Mental Ringan dengan Menggunakan Teknik Total Task Presentation Chaining. PSIKOmedia. Vol. 6, No. 2, h. 19 – 28.

Handojo, Y. (2009). Autisme pada Anak: Menyiapkan Anak Autis untuk Mandiri dan Masuk Sekolah Reguler dengan Metode ABA Basic. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Hurlock, E.B (2002). Psikologi Perkembangan. 5th edition. Erlanga: Jakarta.

Indika, K. (2013). Psikoedukasi untuk Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi pada Anak Retardasi Mental. Tesis. Magister Psikologi Profesi Universitas Sumatera Utara.

Kijak, R. J. (2011). A Desire for Love: Considerations on Sexuality and Sexual Education of People with Intellectual Disability in Poland. Journal Sexuality and Disability. Vol. 29, No. 65, h. 65 – 74.

Kliegman, B dan Nelson, A. (2000). Ilmu Kesehatan Anak Nelson (Editor: A Samik Wahab). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Mardiyati, I. (2010). Rancangan Program Pelatihan untuk Meningkatkan Pengetahuan Ibu dalam Mengajarkan Keterampilan Bantu Diri Area Berpakaian pada Anak Retardasi Mental Tingkat Berat. Tesis. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Martin, G dan Pear, J. (2003). Behavior Modification: What It Is and How to Do It (7th edition). New Jersey: Prentice Hall International, Inc.

Maunder, E. Z. (2006). Emotion Work in the Palliative Nursing Care of Children and Young People. International Journal of Palliative Nurs¬ing. Vol. 12, No. 1.

Mottaghipour, Y dan Bickerton. (2005). The Pyramid of Family Care: A Framework for Family Involvement with Adult Mental Health Service. Toronto: Prentice Hall Health.

Pristiwaluyo, T. (2012). Metode Backward Chaining dalam Pengajaran Keterampilan Mengurus Diri Sendiri pada Anak Imbesil. Jurnal Mahasiswa Teknologi Pendidikan. Vol. 8, No. 1.

Ramawati, D., Allenidekania., Besral. (2012). Kemampuan Perawatan Diri Anak Tuna Grahita Berdasarkan Faktor Eksternal dan Internal Anak. Jurnal Keperawatan Indonesia. Vol. 15, No. 2, h. 89 – 96.

Sadock, B.J dan Sadock, V.A. (2007). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychatry (10th edition). New York: Lippincott Williams & Wilkins.

Sari, P. (2014). Daily Living Skills pada Anak dengan Gangguan Autisme. Jurnal Psikologi, 1-19.

Supratiknya, A. (2011). Merancang Program dan Modul Psikoedukasi (edisi revisi). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Sutanto, S.H. (2006). Efektivitas Backward Chaining dalam Melatih Memakai Baju Sendiri pada Anak Down Syndorme. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.

Wenar, C dan Kerig, P. (2006). Developmental Psychopathology from Infancy through Adolescence (5th edition). New York: McGraw-Hill.

World Health Organization. (1992). The ICD-10 Classification of Mental and Behaviuoral Disorders: Clinical Descriptions and Diagnostic Guidelines. Geneva: World Health Organiza¬tion.

Downloads

Published

2022-05-18